Lynx bergerak cepat memasuki gerbang dunia kecil menuju laboratorium. Ruangan itu dipenuhi cahaya dari layar-layar biru yang menampilkan data rumit, sementara suara mesin berdengung halus. Di tengahnya, Lala duduk menunduk di depan komputer supercanggih, jemarinya menari di atas papan kendali tanpa henti.

"Lala, apa yang sedang kamu kerjakan?" tanya Lynx sambil melangkah mendekat.

Biasanya, setiap kali mendengar suara Lynx, Lala seolah terhipnotis. Ia akan langsung berhenti, menoleh dengan wajah cerah, lalu menyapa penuh semangat. Namun kali ini berbeda. Suara Lynx seakan tidak mampu menembus telinganya. Hanya ada layar dan angka-angka di hadapannya. Lynx tersenyum kecil, menggelengkan kepala. Ia tahu, jika Lala sudah fokus seperti ini, dunia kiamat sekalipun tidak akan bisa memecah konsentrasinya.

Tatapan Lynx menyapu layar-layar yang menampilkan simulasi. Ia tidak paham sepenuhnya, namun matanya membesar saat membaca sebuah keterangan tentang menghidupkan orang mati suri dan memanfaatkan kekuatan pemulihan energi saktinya untuk memulihkan kondisi para penduduk Surya. Hasil simulasi menunjukkan angka seratus persen.

"Jadi idenya... membuat orang mati suri, memancing makhluk itu keluar, lalu menghidupkan mereka kembali. Setelah itu aku yang memulihkan kondisi mereka," pikir Lynx dalam hati. Ia menghela napas berat di selingi rasa gembira karena setuju dengan rencana Lala, lalu bergumam lirih, "Meski sulit, aku pasti bisa memulihkan mereka semua dengan kekuatanku."

Dengan senyum nakal, Lynx menjewer telinga Lala pura-pura tidak tahu. "Apa yang kamu lakukan, profesor cantikku?"

Lala tersentak seperti kesetrum. Ia menoleh cepat, wajahnya memerah karena jengkel. "Lynx, kamu lagi! Sudah berapa kali aku bilang jangan ganggu kalau aku sedang sibuk. Tapi kamu... kamu... ih!" Ia mengomel dengan suara bergetar kesal, lalu membalas menjewer dengan menarik hidung Lynx.

Perbedaan sikap Lala terhadap Lynx membuat siapapun yang tidak mengenalnya pasti akan tercengang. Penduduk Linxi yang baru mengenal Lala pun hanya bisa ternganga saat pertama kali melihat interaksi di antara mereka. Selama hubungan kerjasama berlangsung, mereka hanya tahu Lala selalu terlihat kaku, jarang bercanda, dan bahkan tawanya terdengar kering, seolah hanya simbolis dalam pergaulan. Tapi di hadapan Lynx, ia benar-benar berubah. Tawanya lepas, wajahnya penuh ekspresi.

Jika bukan Nenek Drona yang melihat perubahan ekpresi kebingungan mereka, mungkin mereka semua tidak akan tersadar dengan apa yang mereka saksikan, dia menjelaskan kepada orang-orang yang kebingungan. "Lala kehilangan semua keluarganya. Ayah, kakek, semua. Ia sebatang kara. Bagi Lala, hanya Kepala Suku Lynx keluarganya. Jadi jangan heran, hanya bersama Lynx dia bisa menunjukkan dirinya yang sesungguhnya. Dengan Leena pun ia bisa santai, tapi bebas sepenuhnya hanya ketika bersama Lynx."

Setelah mendapatkan penjelasan tersebut, mereka akhirnya mengerti dan tidak lagi heran saat melihat interaksi antara Lynx dan Lala, meskipun didalam hati mereka sangat yakin sikap yang di tunjukkan Lala adalah rasa cinta, manja terhadap seorang kekasih daripada sekedar keluarga. Penduduk Linxi bahkan sering mencari curi pandang ke arah Leena saat Lynx dan Lala berinteraksi untuk melihat apakah Leena akan cemburu melihat suaminya di dekat wanita lain, namun mereka merasa agak kecewa setelah melihat Leena bersikap biasa bahkan sering ikut bergabung dalam interaksi mereka seolah Lala adalah bagian dari mereka.

Lynx terkekeh, lalu mengangkat tangan menyerah. "Ampun, ampun Lala. Kamu ini tetap saja, kalau membalas selalu sadis. Kalau begini terus, siapa yang berani menikahimu."

"Huh, siapa juga yang mau menikah. Sampai jadi hantu pun aku tidak butuh suami. Nanti aku akan jadi hantu yang menggentayangimu terus," jawab Lala sambil mengangkat kedua tangannya, wajahnya dibuat menyeramkan meniru hantu.

Lynx tertawa keras, sementara Lala mendorong kacamatanya ke atas, kembali serius. "Sudahlah, jangan ganggu aku. Masih ada hal penting yang harus aku lakukan. Kebetulan kamu datang, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu."

Lynx mengangguk. "Aku sudah tahu. Para tetua menyuruhku menghentikan rencanamu. Mereka khawatir. Tapi setelah melihat simulasimu berhasil seratus persen, aku jadi lega. Aku percaya penuh padamu."

Wajah Lala justru meredup. Lynx mengerutkan dahi, heran. "Kenapa kamu sedih? Bukankah harusnya gembira karena ada solusi?"

"Darimana kamu tahu hasilnya seratus persen berhasil?" tanya Lala dengan nada getir, matanya berkaca-kaca.

"Itu... simulasi yang kamu kerjakan," jawab Lynx.

Lala mendengus, menyindir dengan lirih. "Kamu memang kuat, tapi otakmu sayangnya tidak pernah dipakai belajar baik-baik. Angka seratus persen yang kamu lihat itu berwarna merah. Itu artinya tingkat kegagalan. Apa kamu tidak baca tulisan kecil di bawahnya?"

Lynx terdiam. Ia memang sempat melihat, tapi mengabaikan makna warna merah dan tulisan itu karena terlalu terpukau oleh kemungkinan rencana besar Lala yang menurutnya pasti berhasil karena dia mampu memulihkan kondisi orang itu seperti apapun selama masih bernapas. Yang menjadi kendala dia saat ini adalah kondisi para penduduk Surya yang sakit, tidak bisa dipulihkan karena sesuatu menyebabkan kondisi tubuh mereka selalu memburuk tanpa memberikan kerusakan pada tubuh mereka.

"Kamu tahu apa yang membuatnya gagal?" tanya Lala lagi, suaranya menyindir namun sorot matanya dipenuhi kesedihan. "Pertama, kita bahkan belum tahu apakah makhluk itu benar-benar ada, jadi rencana ini percuma tanpa mengetahuinya. Kedua, kalaupun makhluk itu ada, tidak ada yang bisa memastikan berapa lama ia keluar dari inangnya. Teknologi yang kita miliki tidak akan mampu menghidupkan mereka jika waktunya terlalu lama. Ketiga, saat tubuh mereka dikeluarkan dari es, kondisi mereka makin kritis. Mereka bisa mati sungguhan sebelum aku membuat kondisi mereka seperti mati suri."

Lynx menelan ludah, wajahnya kaku.

"Dan ada alasan lain. Bahkan jika berhasil mengeluarkan makhluk itu lalu menghidupkan mereka, kamu tetap membutuhkan kekuatan besar untuk memulihkan tubuh mereka. Seharusnya memang bisa, tapi masalahnya, dunia ini akan hancur meledak jika kamu membuka segel dan mengeluarkan kekuatanmu sepenuhnya."

Lynx menutup mata sejenak. Ia tidak pernah berpikir sejauh itu. Kini ia sadar, bahkan tanpa ia menyuruh berhenti, Lala sudah lebih dulu mempertimbangkan segala skenario terburuk.

"Aku butuh bantuanmu," kata Lala sambil menyerahkan beberapa tabung kaca. "Kepala Desa Linxi bilang ada sebuah desa yang terkena serangan makhluk itu. Temukan satu makhluk, tangkap, lalu bawa padaku untuk diteliti. Jangan pulang sebelum mendapatkannya."

Lynx menerima tabung-tabung itu, lalu menatap Lala dengan penuh tekad. "Baik, aku akan mendapatkannya bagaimanapun caranya."

Tanpa ragu ia berbalik dan segera pergi, meninggalkan Lala yang kembali menunduk di depan layar, wajahnya kembali dingin dan serius.

"Kepala Suku, bagaimana Lala?" tanya para tetua serempak begitu melihat Lynx muncul dari dunia kecil.

"Tidak perlu khawatir, Lala tidak jadi melakukannya. Dia memintaku mencari Pemangsa Yin untuk di teliti," jawab Lynx tenang.

"Baguslah," ucap para tetua hampir bersamaan, nada lega jelas terdengar.

"Aku pergi sekarang," kata Lynx singkat lalu membalikkan badan, melangkah menuju portal yang menghubungkan Desa Surya dengan Desa Linxi.

"Kepala Suku, tunggu!" suara Tetua Ayunga terdengar tergesa saat Lynx sudah di depan portal teleportasi. Ia mendekat, wajahnya sedikit tegang.

Lynx menghentikan langkah, berbalik badan. "Tetua?"

"Maaf mengganggu perjalanan Kepala Suku," ujar Ayunga dengan nada cemas yang berusaha ia sembunyikan. "Aku ingin menanyakan... apakah anakku Jelita baik-baik saja?"

Lynx menatapnya tajam, dapat menangkap keganjilan di balik suara itu. "Dia baik-baik saja. Saat ini dia bersama Leena memeriksa penduduk yang menghilang."

Ayunga menunduk pelan, entah karena lega atau karena masih menyimpan kecemasan yang tak ia ungkapkan.

Lynx tetap menatapnya sejenak, menunggu jika ada yang ingin ditambahkan. Namun ketika Ayunga hanya diam, ia akhirnya berkata, "Aku berangkat sekarang. Tetua tidak perlu khawatir, Jelita tidak lama lagi akan kembali bersama Leena."

Melihat Ayunga tidak menanggapi lagi, Lynx membalikkan badan dan memasuki portal.

Ayunga menatap punggung Kepala Suku yang perlahan menghilang dalam cahaya portal itu dengan pandangan rumit. Ia gelisah, bukan karena kata-kata Lynx, melainkan karena firasatnya sendiri. Sebagai ayah yang membesarkan Jelita sejak kecil, ia merasa ada yang aneh dengan sikap putrinya. Meski dari luar tampak biasa, hatinya berbisik bahwa sesuatu telah berubah.

